Candra Darusman, Berani Bermain Di luar Jalur Jazz Mainstream

Indahnya SepiMinggu, 30 November 2008

Permainan keyboard-nya yang handal mulai dikenal ketika Candra Darusman  bermain satu grup dengan kelompok musik Chaseiro. Tahun 1982 Candra Darusman mencoba bersolo karir dengan meluncurkan beberapa album, diantaranya adalah “Indahnya Sepi”. Kemampuan musikal alumni FE UI ini memang sudah teruji. Semasa mahasiswa Candra Darusma giat bermain musik dengan teman-temannya, dan pernah aktif juga mengagas acara Jazz Goes To Campus di UI yang menjadi pelopor masuknya musiknya Jazz ke ranah akademika yang kala itu bisa dibilang sepi peminat.

Album yang di Produseri Indra Hasan dalam label “Irama Tara” bisa dibilang  menjadi mahakarya Candra Darusman karena berhasil melejitkan  beberapa tembang didalamnya, seperi; “Kau”, “Indahnya Sepi”, “Ballada Seorang Dewa” hingga “Panggilan Jiwa”. Musik dalam album ini memang diracik dengan irama Jazzy dengan kolaborasi aliran lain yang kala itu belum berani dimainkan oleh musisi Indonesia. Totalitas berkarya dalam album ini sepertinya menyiratkan hasrat seorang Candra Darusman yang belum tersalurkan dalam “Chaseiro”.

Kesuksesan Candra Darusman melahirkan album ini tidak bisa dilepaskan dari pola pikirnya yang open minded alias terbuka terhadap berbagai masukan sesama teman musisi. Sekalipun demikian, Candra Darusman mampu mengeksekusi, model seperti apa dari masukan yang bisa diserap dalam albumnya. Terbukti segerombolan musisi hasil pertemanannya rela dan senang membantu pilot project-nya Candra Darusman, sebut saja; Embong Rahardjo (alm), Mates, Ikang Fawzi hingga Luluk Purwanto.

Selain musiknya yang beda, syair lagu dalam album “Indahnya Sepi” ini juga diluar mainstream. Bisa jadi ini diluar dugaan Candra, awalnya memang ingin menyodorkan musik Jazz yang easy listening, tapi syairnya yang unik, puitis dan “berani” ternyata menjadi sihir dan nilai tambah. Misalkan dalam tembang “Dibatas Waktu”; Kala hening datang menerkam bahu/terasa mengusik sukmanya kalbu/perilaku yang ada pertanda resahnya jiwa yang kian mendera jua. Atau dalam lirik yang  nasionalis bikinan Ikang Fawzi dalam “Panggilan Jiwa”; Rentangkan/Ulurkan Tanganmu sedini mungkin/menyibak segenap perbedaan/ nan tercermin dalam kehidupan/panggilan jiwa meronta/menerawang dialam mahardika/’tuk meraih harkat cinta bangsaku/ damai sentosa../

Proses rekaman dan Mixing dalam album ini yang kala itu dilakukan  di studio GELORA SENI milik Jundi Karyadi memang masih menggunakan alat yang terbatas (24 track). Namun Jundi yang bertindak sebagai programmer-nya mampu mencuatkan nada-nada dari alat musik yang dimainkan terasa natural. Mendengar album ini dalam sistem audio yang bagus  terasa mendengarkan mereka bermain live. Ada beberap distorsi suara dalam rekaman ini, namun kesan ini tertutupi oleh kehandalan mixing.

Lewat tangan dingin Candra Darusman pula, sejumlah komposisi lagu bisa disulat menjadi dinamis, kadang terdengar sangat Jazzy, pop, juga ada unsur R&B-nya. Misalkan pada lagu “Kau”, sebuah ballad dengan  pola arransemen mengikuti gaya bermusiknya  “The Switch” yang ngetop pada tahun 80an dengan hits “Love.

Dialbum ini, Candra Darusman juga menyodorkan dua karya instrumental yakni “Kwartet Sunyi” dan “Ini atau Itu” yang menampilkan  musisi  jazz ternama Indonesia almarhum Embong Rahardjo dan penggesek biola Luluk Purwanto. [lyzth/cover:irama tara]

No Comments Yet

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment